Presiden kita, akhir-akhir ini

Mbah Surip, penghibur yang disukai semua orang itu, mendadak meninggal. Bisa dimengerti betapa ribetnya seluruh komponen negeri ini menanggapi kepergian kakek gimbal yang satu ini. Ia wafat tepat di saat karirnya tengah menanjak. Presiden pun langsung menggelar jumpa pers untuk menyatakan rasa belasungkawanya atas kepergian penyanyi yang tenar lewat tembang “Tak Gendong” ini.
Beberapa hari kemudian tahu-tahu kita kembali dikagetkan oleh berita meninggalnya WS. Rendra, salah seorang seniman terbesar dalam sejarah negeri ini, yang juga karib dari Mbah Surip. Kawasan Bengkel Teater, markas besar komunitas yang digalang Rendra, kembali ramai setelah beberapa hari sebelumnya menjadi tempat persemayaman jenazah Mbah Surip.
Kali ini SBY tak menggelar jumpa pers, ia tak menunjukkan muka sedih bahkan tak kelihatan bereaksi.
Barangkali inilah ironi era pencitraan yang konon merupakan ekses posmodernisme.
Rendra, tak ada seorang pun di negeri ini yang “punya hak” untuk meragukan kontribusi sosok satu ini bagi kemajuan kesenian di tanah air. Sejak puluhan tahun lalu ia sudah menancapkan pengaruhnya kuat-kuat dalam tradisi susastra dan teater di nusantara. Tapi memang kedua wilayah kebudayaan ini bukanlah hal yang jamak dalam kehidupan masyarakat kini, makanya pribadi yang terlibat di dalamnya sulit untuk nampang di televisi secara reguler.
Sedangkan Mbah Surip, ia sudah lama menggeluti dunia bohemian ala seniman jalanan. Namun baru akhir-akhir ini ia berkesempatan mencicipi maraknya publikasi besar-besaran, terutama di layar kaca. Dengan lagu yang terkesan seadanya namun jenaka, ia menghibur masyarakat yang letih menerima berita buruk setiap hari. Namun tak bisa disangkal, ketenaran kakek gimbal ini sekarang telah melampaui Rendra di negeri ini.
Saya yakin, sebagian besar orang setuju jika saya berasumsi begini: berita meninggalnya Mbah Surip direspon Presiden dengan jumpa pers, maka jamak jika meninggalnya Rendra direspon Presiden dengan melayat jenazah sang burung merak dan memberi penghormatan untuk terakhir kali.
Tidak adil memang untuk membandingkan kedua tokoh ini dalam hal kontribusi bagi negeri, terutama karena durasi kesempatannya yang berbeda. Tapi tak adil juga memberikan perlakuan berbeda perihal berita meninggalnya mereka. Ironisnya, inilah yang dilakukan oleh Bapak Presiden kita, SBY.
Kita terlanjur terbiasa melihat SBY bersolek di depan televisi, dengan kalimat teratur dan bahasa tubuh yang necis (meski menjemukan). Ia, misalnya, hanya mau muncul di saat pengumuman penurunan kenaikan BBM. Jika fakta ini kita kaitkan dengan kasus kematian Rendra, ketimbang Mbah Surip, Rendra memang bukan apa-apa dalam hal publikasi di media massa saat ini, terutama media massa hiburan. Maka bisakah kita mengatakan perilaku SBY ini sebagai tindakan mencari popularitas?
Melihat jasa dan sumbangan yang telah Rendra berikan buat negeri ini, mestinya sangat wajar jika siapapun presiden yang memimpin negeri ini melayat, bahkan mengantarkan jenazahnya sampai ke makam.
Ini baru soal Rendra. Bagaimana kalau kita membicarakan musibah jatuhnya pesawat dan penderitaan korban lumpur Lapindo?
Popularity: 42% [?]
No related posts.




















