Nyanyi angin -kau dengar itu?-
Angin yang menggelayut pada
dinding -kau dengar itu?- menyanyikan
koor muram, dengan guntur yang
jadi metronom.
seperti menyambut tetes-tetes
hujan yang menulis aksara
pada kaca jendela
kau tahu,
akan selalu ada amarah
pada kisah yang mendadak retak
seperti kali ini.
dan tetes hujan turun
berebut menulis aksara pada jendela.
pada detik-detik ini,
tidakkah setiap orang akan
jadi penyair?
Ciputat, 06 Maret 2005.
Popularity: 20% [?]
Related posts:





















