
Dreaming
Tahukah kau di sana dingin
memanggil dengan suara
yang bergetar, menunggu kita
mendatangi pondok itu dan meletakkan
tangan kita di jendela. Memandang danau
yang birunya memancar, di bawah rindang cemara.
aku ingin meletakkan cincin
di jarimu. Aku ingin memakaikan
kerudung putih ketika kau tertunduk.
Medan, 11 Februari 2006.
Popularity: 93% [?]
“Cinta itu warnanya merah.” Ucapmu.
“Lihatlah tanda yang ia tinggalkan
di dada kita.”
Ciputat, 16 November 2005.
Popularity: 25% [?]

Sendiri
hujan telah lewat
dingin kian merapat
dan bayang beristirahat
tak ada kata yang siap
dijadikan pelana
pada waktu yang beku,
angin telah menghempas kalor
dari tubuh yang menggigil
tinggal bulan muram sendiri
Ciputat, 22 April 2005.
Popularity: 21% [?]

Michael Lukas Leopold Willmann
Angin yang menggelayut pada
dinding -kau dengar itu?- menyanyikan
koor muram, dengan guntur yang
jadi metronom.
seperti menyambut tetes-tetes
hujan yang menulis aksara
pada kaca jendela
kau tahu,
akan selalu ada amarah
pada kisah yang mendadak retak
seperti kali ini.
dan tetes hujan turun
berebut menulis aksara pada jendela.
pada detik-detik ini,
tidakkah setiap orang akan
jadi penyair?
Ciputat, 06 Maret 2005.
Popularity: 20% [?]
Saya sadar tentang ingatan
yang telah menguning dan ujungnya
terlipat. Tak ada album foto yang
membuat tetap necis dan merekat
ketika lupa demikian rakus,
cukup tinta menulis tentang
kota ini -ya, Ciputat. Karena
tak ada rindu pada purnama
yang di bayangnya kita main petak umpet
atau ketika ingatan demikian
renta, hanya Corrine meminta
puisi saya.
Ciputat, 25 Februari 2005.
Popularity: 22% [?]