
Mengapa Chairil? Kita tahu dia pencuri, plagiat, bohemian, penerjemah, dan tentu saja, penyair besar.
Ya, tapi mengapa Chairil?
Karena berbicara sastra Indonesia tanpa mengikutsertakan penyair ini, adalah kesalahan yang tak terampuni. Sama halnya menunaikan sembahyang tanpa melakukan takbir. Terutama karena dia melakukan revolusi dalam dunia kesusastraan Indonesia –terlebih, puisi.
Sutan Takdir Alisyahbana (Takdir-pen) jauh-jauh hari sebelum Chairil, telah mendeklarasikan sebuah proyek pembaharuan dalam kebudayaan Indonesia. Jadilah majalah Poedjangga Baroe yang didirikannya menjadi semacam Alkitab yang mengabarkan misi profetiknya; modernisasi kebudayaan Indonesia yang mesti berkaca dari cerlangnya rasionalitas dunia barat. Takdir pun bersiasat, Takdir pun menyusun filsafat. Tapi orang menjadi maklum, bahwa ia tak kunjung berhasil menuangkan renungannya dalam pencapaian estetika susastra yang dianggapnya sebagai garda depan kebudayaan.
Read more…
Popularity: 49% [?]
Sejarah kesusastraan Indonesia mencatat beberapa debat yang mencoba mengkonseptualisasikan relasi antara sastra dengan problem kemasyarakatan. Contoh yang dapat kita ungkit misalnya, era Sutan Takdir Alisjahbana dengan “Poejangga Baroe”-nya yang mencoba mendefinisikan kebudayaan nasional di tengah arus modernitas yang sedang menjadi poros utama, yang kemudian diwajahkan pada corak bersastra.
Demikian juga pada masa “Lekra vs Manifes Kebudayaan”. yang jadi soal kala itu adalah, bagaimana kesenian –dan juga sastra- mesti bersikap di depan politik yang kala itu sedang jadi semangat zaman.
Yang lebih dekat dengan zaman ini, diskusi seputar “sastra kontekstual” yang dipicu oleh Arief Budiman dan Ariel Heryanto. Mereka coba menggugat karya sastra di Indonesia yang dianggap kehilangan perannya dalam konteks kemasyarakatan, karena terlalu mengacu pada standaritas barat. Usaha ini konon berawal dari kegelisahan Arief Budiman terhadap kemapanan paham “sastra universal” yang telah membatu dan memonumen, makanya perlu dikerikilkan agar tak terjadi sentralisasi rezim pengetahuan.
Read more…
Popularity: 40% [?]