
Dreaming
Tahukah kau di sana dingin
memanggil dengan suara
yang bergetar, menunggu kita
mendatangi pondok itu dan meletakkan
tangan kita di jendela. Memandang danau
yang birunya memancar, di bawah rindang cemara.
aku ingin meletakkan cincin
di jarimu. Aku ingin memakaikan
kerudung putih ketika kau tertunduk.
Medan, 11 Februari 2006.
Popularity: 98% [?]
“Cinta itu warnanya merah.” Ucapmu.
“Lihatlah tanda yang ia tinggalkan
di dada kita.”
Ciputat, 16 November 2005.
Popularity: 26% [?]

Sendiri
hujan telah lewat
dingin kian merapat
dan bayang beristirahat
tak ada kata yang siap
dijadikan pelana
pada waktu yang beku,
angin telah menghempas kalor
dari tubuh yang menggigil
tinggal bulan muram sendiri
Ciputat, 22 April 2005.
Popularity: 23% [?]

Lonely tree
Tuhan tiga kali datang dalam mimpi-mimpinya. Ibrahim takjub, tapi ia yakin bahwa Ismail, anak yang berpuluh tahun ditunggu lahirnya, anak yang baru lahir di masa tuanya, benar-benar diminta Tuhan. Maka Ibrahim berkali-kali mengasah belati dan meyakinkan hati. Sepertinya ia ingin berkompromi; mengasah belati berkali-kali agar Ismail tak perlu berlama-lama merasakan sakit, meyakinkan hati agar tak geming dari perintah Tuhannya.
Tentu saja Tuhan tahu apa artinya Ismail bagi Ibrahim, tapi justru karena itu Ia memintanya demi menguji keteguhan hati Ibrahim. Dan kemudian kita tahu ibrahim adalah – meminjam istilah Chairil Anwar- “pemeluk teguh”. Ia membaringkan Ismail di sebuah batu, menyebut nama Tuhannya sambil bergegas menetak leher Ismail.
Read more…
Popularity: 28% [?]

Michael Lukas Leopold Willmann
Angin yang menggelayut pada
dinding -kau dengar itu?- menyanyikan
koor muram, dengan guntur yang
jadi metronom.
seperti menyambut tetes-tetes
hujan yang menulis aksara
pada kaca jendela
kau tahu,
akan selalu ada amarah
pada kisah yang mendadak retak
seperti kali ini.
dan tetes hujan turun
berebut menulis aksara pada jendela.
pada detik-detik ini,
tidakkah setiap orang akan
jadi penyair?
Ciputat, 06 Maret 2005.
Popularity: 22% [?]