Untaian kalimat semacam “lagu roda dua seperti malas tak beringas”, “setangkai kembang pete, tanda cinta abadi namun kere”, serta “kalau hanya senyum…Westerling pun tersenyum”, adalah ungkapan khas yang hanya bisa dicapai oleh Iwan Fals. Ini menandakan bahwa syair citanya tak kalah dengan lagunya yang semacam pada era sebelumnya.
Dengan kritisisme yang telah menjadi watak syairnya, ditambah kualitas syair yang begitu berkelas, apalagi menghitung jumlah penggemarnya yang bejibun, tak akan ada yang menggugat ketika ia dinobatkan sebagai salah satu pahlawan Asia oleh majalah Time.
Read more…
Popularity: 38% [?]
Iwan Fals merupakan satu dari sedikit musikus legendaris Nusantara yang masih aktif dalam berkarya. Meski pada dekade 90-an ia sempat vakum, dalam arti tidak rutin memublikasi lagu-lagu baru, namun dekade selanjutnya sampai kini ia cukup teratur mengeluarkan beberapa album dengan lagu-lagu baru, baik yang ditulisnya sendiri maupun oleh orang lain.
Masa-masa vakum penyanyi kharismatik ini pada dekade 90-an merupakan era yang sangat penting bagi corak karya-karyanya. Kita dapat melihat pergeseran yang mencolok dalam pandangan dunia sang aku lirik dalam lagu-lagu Iwan Fals pra 90-an, dengan pasca 90-an. Berdasar hal tersebut perjalanan karir penyanyi bernama asli Virgiawan Listianto ini menurut saya dapat dibagi menjadi tiga periode. Di sini pembagian periode tersebut diistilahkan sebagai periode Iwan Fals muda, periode kematangan, dan periode Iwan Fals tua.
Read more…
Popularity: 39% [?]

self reflection
Heidegger mengatakan bahwa Dasein (manusia) adalah makhluk yang pada hakikatnya cenderung larut dalam banalitas kehidupan yang membuatnya menjalani dan memandang kenyataan sekadar sebuah rutinitas linier yang berkesinambungan. Barulah pada saat dihadapkan pada pilihan yang menentukan hidupnya, Dasein tercerabut dari realitas yang dijalaninya dan menghayatinya sebagai setiap momen yang urgen.
Heidegger mengibaratkan proses ini layaknya kehadiran alat bantu dalam kehidupan kita, semisal telepon genggam. Kita memanfaatkan teknologi ini secara rutin tanpa menyadari lagi hakikatnya. Kita baru akan memikirkan kembali arti dan hakikat telepon genggam ini setelah ia tak bisa berfungsi lagi.
Pandangan ini relevan dengan fungsi dan hakikat kesenian, dalam konteks ini seni musik, bagi kehidupan kita. Musik, sebagaimana lazimnya wahana seni lain, adalah sebuah refleksi yang menyaratkan sikap mengambil jarak sekaligus penghayatan terhadap realitas. Sikap ini mutlak bagi sebuah laku refleksi, karena hanya dengan begitu ia bisa menggauli kehidupan dengan intens dan memandangnya dalam suatu konsepsi tertentu. Jika rutinitas menjadi banal dan membuat kita kering serta terasing, maka seni adalah perigi refleksi yang mengutuhkannya kembali.
Read more…
Popularity: 26% [?]
Runaway world, demikian Giddens mengomentari kemajuan kehidupan zaman ini yang kian kencang dan sulit diprediksi. Teknologi telah membuat semuanya jadi serba mungkin, segala sisi kehidupan kini telah berjalan sedemikian praktis. Banyak hal yang tak pernah dipikirkan manusia, atau menjadi sekadar fiksi ilmiah pada beberapa dekade sebelumnya, kini benar-benar telah terjadi dan berlaku sebagai pengalaman sehari-hari dan merambah ke segala bidang kehidupan, tanpa kecuali. Gejala yang sama tentu saja menjangkit di dunia musik, terutama jika kita memperlakukannya sebagai satu unsur terpenting dalam jagat hiburan.
Perkembangan mutakhir dari teknologi musik dan komunikasi adalah Ring Back Tone (selanjutnya RBT) yang kini kian digemari banyak orang dan sudah menjadi wahana industri tersendiri. Layanan ini memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi selular dan memungkinkan tiap orang untuk mempersonalisasi nada panggil dari masing-masing nomornya. Banyak orang bahkan memakai layanan ini sebagai gambaran dirinya dengan memakai lagu-lagu yang dianggap mewakili, entah perasaan aktualnya, pandangan hidupnya, atau sekadar hobinya.
Read more…
Popularity: 21% [?]
Tema musik
Tak jelas apa yang dimaksud ERK dengan kata “melayu” dalam lagu Cinta Melulu, tapi sebagaimana syair di atas, mereka mengasosiasikannya dengan tempo yang mendayu-dayu, nuansa lagu yang sendu, dan syair yang membicarakan “cinta melulu”. Memang dalam dunia musik kita sering disebut istilah melayu untuk mengidentifikasi aliran grup musik yang mengadopsi nada-nada khas melayu (biasanya paling jelas terdengar dalam legatto-nya), seperti Kangen band, Wali, Radja, akhir-akhir ini Ungu, dan lain sebagainya.
Kita bisa berdebat tentang definisi dari “melayu” yang dimaksud oleh ERK. Namun kita tidak bisa mungkir dengan fakta yang ditunjukkan dalam lagu tersebut, yakni maraknya tema musik yang dihasilkan dari pertautan ketiga kategori, yakni antara tempo mendayu-dayu, nuansa sendu yang biasanya dihasilkan dari jalur nada minor, dan syairnya yang membicarakan cinta melulu. Coba saja tengok video klip dan iklan musik yang ditayangkan di berbagai saluran televisi kita. Dapat dikatakan bahwa sebagaimana yang terjadi pada lirik-liriknya, lagu-lagu di Indonesia cenderung mengulang-ulang tema yang sama dari lagu-ke lagu. Baik, untuk menyederhanakan, dalam tulisan ini saya akan menyebutnya sebagai tema konvensional.
Read more…
Popularity: 80% [?]